Dari informasi polisi Kota Kinabalu, Malaysia, Harman sedang berada di kapal bersama dua anak buahnya ketika sebuah kapal cepat berisi sekelompok pria merapat. Mereka hanya membawa Haman, sementara dua anak buahnya dibiarkan tetap di atas kapal setelah ditawan dua hari. Penculikan ini terjadi 3 Agustus lalu, namun awak kapal tersebut baru bisa melapor dua hari sesudahnya.
The Star melaporkan, Minggu (7/8), polisi menduga penculikan ini tidak didalangi oleh kelompok bersenjata Abu Sayyaf. Kecurigaan polisi dimulai dari jumlah tebusan yang diminta, 'hanya' 10 ribu Ringgit, sedangkan aksi Abu Sayyaf bulan lalu menculik 10 WNI menghasilkan tuntutan 20 juta Ringgit. Ke-10 WNI itu sampai sekarang belum dibebaskan.
Faktor lainnya, teroris di selatan Filipina biasanya tidak melepas sandera setelah diculik hanya dalam hitungan jam. Dalam kasus kali ini, dua awak kapal itu mengaku dibawa ke dua pulau kosong sekitar Sandakan, lantas dilepas karena diminta mencari uang tebusan sesegera mungkin.
"Kami berusaha memastikan insiden ini benar-benar penculikan. Kami terus mendalami keterangan awak kapal," kata Abdul Rashid Harun, Kepala Polisi Sabah.
Kapal pimpinan Harman berangkat dari Sandakan pada 31 Juli. Polisi masih belum bisa memastikan, apakah TKP penculikan berada di perairan Malaysia atau sudah memasuki Filipina. Kendati demikian, laporan penculikan ini adalah yang ketiga kalinya dalam kurun sebulan di Sabah.
Dalam keterangan terpisah, dua awak itu meyakini sudah diculik oleh kelompok bersenjata Filipina. Mereka mengaku para penculik Harman mengenakan seragam loreng, penutup kepala, serta berbicara dalam bahasa Melayu patah-patah.
Sign up here with your email

ConversionConversion EmoticonEmoticon